Sabtu, 21 Februari 2009

Manakib

Inilah Suasana Manakib Dibojong yang diselenggarakan setiap minggu ketiga Yang dimana isi dari ceramah yang sangat berkesan untuk saya 1 . Valentin Siapa yang merayakan atau ikut serta dalam acara tersebut anda keluar dari ajaran islam karna tidak ada Satu ayat Alqu'an ataupun hadist yang membolehkan kita ikut acara valentinan, kalau kita ikut berarti ..... yang artikan sendiri bagi pembaca karna diluar dari Alqur'an dan Hadist 2 . Menuntut Ilmu Ada ayat menerangkan untuk mencari Ilmu.... Berati kita harus pintar.... jangan bodoh apakah pintar harus Ir..Sarjana atau Dokter.... untuk apa berilmu kalau tidak didasari oleh Islam, iman dan Ihsan. kalau kita sudah berilmu .... kita menjadi islam yg sempurna..... tidak , jika kita tidak ber-amal.... beramal apa... ya... apa saja.....setelah itu berarti islam kita sudah sempuna... (bodoh---->ber-ilmu---->islam,iman dan ihsan----> beramal ) sempurnakah..... tidakkkkkkkkkkkkkk kok gitu... lantas apa donk pertanyan didalam hati saya Ust. Asep menjawab....bila tidak dibarengi dengan rasa Ikhlas dan berdzikir

Suasana Manakib di bojong

Ust.Asep sedang memberikan ceramah amaliyah TQN

Manakib Mesjid istiqlal

Manakib Akbar

Selasa, 10 Februari 2009

Penghubung Manusia Dengan Allah

Siapa penghubung manusia dengan Allah ? Qalbu Penghubung Manusia Dengan Allah adalah Qalbu Hakikat diri (nafs) manusia adalah jiwa (rûh), dan inti dari jiwa adalah hatinurani (qalbu). Qalbu juga merupakan penghubung antara manusia dengan Tuhannya. Allah berhubungan dengan manusia melalui Qalbu. “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah terhubung dengan manusia melalui qalbunya…”(QS. 8:24) Juga dalam sebuah haditsnya Rasulullah SAW mengingatkan kita: “Sesungguhnya Allah tidak memperhatikan penampakan lahiriyahmu, tapi yang selalu Allah perhatikan adalah qalbu-qalbu kamu yang ada di dalam dada.” Maka ketika tubuh biologis manusia mengalami kematian, diri manusia yang berwujud ruh (jiwa) dikeluarkan dari tubuh itu dan dibawa menghadap Allah SWT dengan didampingi oleh para malaikat dan jin yang selama ini menjadi qarin-nya. "Hari ketika Ruh dan para malaikat berdiri berjajar…"(QS. 78:38) Saat itu qalbu jismani, yaitu jantung, sudah akan hancur bersama hancurnya tubuh di dalam kuburan. Tetapi qalbu ruhani, yaitu hatinurani, akan terbawa menghadap Allah SWT. "Hari tidak ada lagi manfaat harta maupun keturunan.Kecuali yang menghadap Allah dengan qalbu yang selamat."(QS. 26:88-89) Qalbu bisa saja bermasalah, sumber masalahnya adalah hawa nafsu yang ada di dalam diri dan setan/iblis yang ada di luar diri. Dengan gangguan keduanya qalbu dapat menjadi kotor dan rusak. Namun segala sesuatu ada pembersihnya dan pembersih qalbu adalah dzikrullah "Janganlah kamu ikuti orang yang lalai qalbunya dari berdzikir kepada-Ku lalu ia ikuti hawa nafsunya"(QS. 18:28) "Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran"(QS. 4:135) "Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa-nya?"(QS. 25:43) "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut dorongan hawa"(QS. 53:3) "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tu­hannya dan menahan diri dari dorongan hawa"(QS. 79:40) Fungsi Qalbu: Di dalam Qalbu; - Mengakal (QS. 22:46) - Memahami (QS. :179) - Mengobservasi (QS. 22:46) - Mengimani (QS. 5:41, 39:45) - Merasa (QS. 2:260, 40:35, 57:16) - Merenungkan/dzikir (QS. 50:37, 43:36) Isi Qalbu: 1. Fitrah Allah (Sifat/Ilmu/Qudrat) (QS. 30:30) 2. Bibit Iman (Kesaksian Iman) (QS. 7:172 & HR. Bukhari) 3. Format ke-Allah-an (HR. Bukhari) Problem Qalbu: 1. Berkarat (Hadits) 2. Tertutup (QS. 2:7) 3. Mengeras (QS. 2:74) 4. Berpenyakit (QS. 2:10) 5. Buta (QS. 22:46) 6. Brutal/kasar (QS. 3:159) Kalau qalbu mengalami problem-problem tersebut maka fungsi qalbu akan terganggu atau bahkan terhenti sama sekali. Akhlak Bermula dari Qalbu Beruntunglah orang-orang yang memiliki qalbu yang bersih lagi jernih, yang dengan itu hubungannya dengan Allah akan berjalan mulus dan ia dapat menyerap cahaya Allah sebaik-baiknya. Allah SWT adalah cahaya langit dan bumi (QS. 24:35) dan Rasulullah s.a.w. sering berdoa: Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami…(QS. 66:8) “Ya Allah, jadikanlah pada qalbuku selalu ada cahaya… “. Ketika cahaya Allah telah terserap kedalam qalbu maka apa yang ada di dalam qalbu akan tumbuh memancar keluar, dan berkembang menjadi akhlak yang disebut Akhlak ke-Allah-an. “Berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah…” Sebaliknya, qalbu yang rusak dan mati akan gagal menyerap cahaya Allah sehingga bibit iman dan sifat-sifat Allah yang ada di dalam qalbu juga mati. Qalbu yang mati akan gagal menjalankan fungsinya: Mengendalikan hawa nafsu, dan Membentengi diri dari setan/iblis. Akibatnya setan/iblis dengan leluasa masuk ke dalam diri dan mengobar-ngobarkan hawa nafsu sehingga muncul dorongan-dorongan biologis kebinatangan. Kalau sudah begitu akhlaq yang terbentuk pun merupakan akhlaq kebinatangan atau akhlak kesetanan.

Qalbu

Bagaimana cara menghidupkan qalbu?
Bagaimana cara menghunjamkan dzikir jahri dari mulut agar tembus menjadi dzikir sirri di dalam qalbu?
“…maka bertanyalah kepada ahli dzikir (bukan ahli fikir! - pen.) jika kamu tidak mengetahui.”(QS. 16:43)
Ada banyak metode (thariqah) yang digunakan para ahli dzikir, diantaranya metode Qadiriyah Naqsyabandiyah Suryalaya: 1. Gunakan Dzikir Utama berulang-ulang 2. Lewatkan titik-titik lathifah (sensor) untuk menghunjam masuk ke dalam qalbu 3. Sertakan hentakan/tekanan (dharban) yang kuat 4. Rasakan jangan fikirkan 5. Titik Sensor (Lathifah)Dzikir Jahri yang diucapkan dengan mulut harus ditembuskan ke pusat ruh yaitu Qalbu, kalau tidak ia hanya akan menjadi gelombang-gelombang suara yang lepas mengembara di angkasa tanpa menembus alam lâhût dan `arasy Allah. Untuk menembuskannya, saat mulut melafazhkan kalimat Lâ-ilâha-illa-llâh kita jalarkan kalimat tersebut pada titik-titik lathifah/sensor:1. Lathifah Qalbi2. Lathifah Ruhi3. Lathifah Sirri4. Lathifah Khafiy5. Lathifah Akhfa6. Lathifah Nafs7. Lathifah Qalabi 6. Pengucapan kalimat Lâ-ilâha-illa-llâh dilakukan dengan suara tegas, dirasakan / dijalarkan dari bawah pusar keatas hingga ubun-ubun, lalu ke sebelah kanan dari titik 2 jari di atas puting susu ke arah titik 2 jari dibawah putting susu, lalu ke sebelah kiri dari titik 2 jari di atas putting susu dihunjamkan ke titik 2 jari di bawah putting susu kiri. Penjalaran dzikir ini diarahkan dengan gerakan kepala ke atas, lalu ke kanan dan ke kiri. 7. Semua itu dilakukan dengan tekanan/ hentakan yang kuat (dharban) kedalam tubuh hingga terasakan kedalam ruh/jiwa orang yang melakukannya. Lakukan itu berulang-ulang, sebanyak-banyaknya, sehingga terbentuk apa yang disebut the magical power of repetition. 8. “…dzikirkan olehmu Allah sebanyak-banyaknya.”(QS. 33:41) 9. Dalam melakukannya jangan gunakan fikiran, tapi gunakan rasa, karena berdzikir memang bukan berfikir. Allah swt tegas membedakan dzikir dengan fikir di dalam QS. Ali Imran 3:191. Sekali lagi: rasakan, jangan fikirkan! 10. Manakala dzawq (rasa) di dalam qalbu telah dapat merasakan iman tawhid maka Dzikir Jahri boleh dihentikan dan diganti dengan Dzikir Sirri. 11. Kadang orang masih penasaran bertanya, sebanyak-banyaknya itu berapa kali? Para ulama dzikir menyatakan sekurang-kurangnya 5 x 33 alias 165 kali. Orang sudah biasa berdzikir 33 kali, lakukanlah Dzikir Jahri ini 5 kali lipatnya sehingga menjadi 165. 12. Apakah harus tepat sejumlah itu? Tidak harus! The more the better (makin banyak, ya makin baik). Ibarat orang mengaduk adonan kue/roti, adukan itu harus mencukupi hingga adonan mengembang, lalu dibakar di oven. Kalau adukan kurang memadai dan adonan belum mengembang lalu langsung dibakar dengan oven apa jadinya? Bantat. Begitu pula dzikir. Kalau Dzikir Jahri kurang kuat tekanannya, atau kurang banyak pengulangannya, maka ia belum sampai menembus dan menggetarkan qalbu. Kalau langsung dihentikan maka Dzikir Sirri belum terbentuk di qalbu, akibatnya qalbu belum terhubung ke Allah SWT, nikmat dan manfaat dzikir pun tidak tercapai. 13. Muncul pula pertanyaan mengapa pengarahan jalaran dzikir itu menggunakan gerakan kepala ke atas, ke kanan, lalu ke kiri? Ulama dzikir dalam istinbatnya menarik hikmah dari ayat: 14. Iblis: “Lalu akan aku datangi manusia dari hadapan mereka, dan dari belakang mereka, dan dari kanan mereka, dan dari kiri mereka…”(QS. 7:17) 15. Gerakan dzikir ke atas maksudnya untuk menepiskan iblis yang menyerang dari depan dan belakang, gerakan dzikir ke kanan dan ke kiri untuk menepiskan iblis yang ada di kanan dan kiri.

Jumat, 06 Februari 2009

Azas Tujuan Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya Assalamu’alaikum Wr.Wb. Ilahi Anta Maqshuudii Waridloka Mathluubi A’thini Mahabbataka wa Ma’rifatakaArtinya : Ya Tuhanku ! hanya Engkaulah yang ku maksud, dan keridlaan Mulah yang kucari. Berilah aku kemampuan untuk bisa mencintaiMu dan ma’rifat kepadaMu.Doa tersebut diatas oleh para ikhwan Thoriqah Qadiriyah Naqsayabandiyah wajib dibaca dua kali. Dalam doa tersebut mengandung tiga bagian : 1. Taqorub terhadap Allah SWT. Ialah mendekatkan diri kepad Allah dalam jalan ubudiyah yang dalam hal ini dapat dikatakan tak ada sesuatunyapun yang menjadi tirai penghalang antara abid dan ma’bud, antara choliq dan makhluq. 2. Menuju jalan mardhotillah Ialah menuju jalan yang diridloi Allah SWT. baik dalam ubudiyah maupun di luar ubudiyah, jadi dalam segala gerak-gerik manusia diharuskan mengikuti atau mentaati perintah Tuhan dan menjauhi atau meninggalkan larangan-NYA.Hasil budi pekerti menjadi baik, akhlak pun baik dan segala hal ikhwalnya menjadi baik pula, baik yang berhubungan dengan Tuhan maupun yang berhubungan dengan sesama manusia atau dengan mahluk Allah dan insya Allah tidak akan lepas dari keridloan Allah SWT. 3. Kemahabbahan dan kema’rifatan terhadap Allah S.W.TRasa cinta dan ma’rifat terhadap Allah “Dzat Laisa Kamitslihi Syaiun” yang dalam mahabbah itu mengandung keteguhan jiwa dan kejujuran hati. Kalau telah tumbuh Mahabbah, timbullah berbagai macam hikmah di antaranya membiasakan diri dengan selurus-lurusnya dalam hak dhohir dan bathin, dapat pula mewujudkan “keadilan” yakni dapat menetapkan sesuatu dalam haknya dengan sebenar-benarnya. Pancaran dari mahabbah datang pula belas kasihan ke sesama makhluk diantaranya cinta pada nusa ke segala bangsa beserta agamanya. Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah ini adalah salah satu jalan buat membukakan diri supaya tercapai arah tujuan tersebut. Suryalaya 10 November 1960 Ttd. (KH. A Shohibulwafa Tajul ‘Arifin).